Seribu Kata Beribu Makna (bag Prolog)
Prolog
Aku tak tau, kata
apa yang akan ku goreskan diselembar kertas putih bersih. Hanya kata pohon yang
bisa kutuliskan di lembaran kertas dihadapanku. Yah mungkin, pohon bisa menjadi
akar untuk kata-kata selanjutnya. Tapi, aku tak tau kata yang tepat untuk
melanjutkannya.
"Nila!!!Bisakah
kau lebih cepat menorehkan idemu di lembaran kertas itu. Aku sudah bosan untuk
menunggumu!"kata Jimmy sedikit membentak. Tangannya berkacak pinggang.
"Maaf, tapi
aku tak tau kata apa yang bisa menjadi lanjutannya,"jawabku lugu. Jimmy
hanya menghela nafas.
"Memangnya,
apa kata awalmu? Masa begitu saja lama?,"tanyanya.
"Pohon, dan
aku tak tau apa kata selanjutnya. Yah, mungkin kau lebih pantas untuk
melanjutkannya. Aku memang tak pantas untuk menjadi seorang penulis yang pandai
merangkai kata-kata seperti kamu, JIMMY!"bentakku. Jimmy hanya terdiam.
"..."
"Oke, Jimmy,
aku tak tau apa yang akan kukatakan. Tapi kau...."ucapanku terputus oleh
perkataan Jimmy.
“Kau apa?,”bentak
Jimmy.
“Kau terlalu keras
untuk mengajariku untuk menjadi penulis. Dan, maaf. Aku tak punya waktu
untukmu!,”ujarku keras.
“Permisi,”Aku
meninggalkan Jimmy yang terdiam. Aku tidak butuh bantuannya. Aku hanya ingin
ketenangan.
“Maaf,”
##
Aku
akan menceritakan kepadamu, tentang diriku. Seorang gadis yang masih ber-umur
12 tahun dan tidak memiliki bakat. Yah mungkin, kau saat ini sedang
membayang-kan sesosok manusia yang selalu berkucir dua dengan satu kalung
berwarna ungu berpa-duan pink di lehernya dan sebuah jam tangan hitam di
pergelangan tangannya.
Aku seperti
manusia yang tidak punya ide dan selalu mengikuti perbuatan orang. Aku melihat
ibuku memasak dan aku mencoba memasak,aku yakin kau tau apa yang akan terjadi.
Dan pikiranmu itu benar.
Aku melihat Jimmy
yang suka menulis, Aku minta bantuannya untuk mengajari-ku menulis. Dan seperti
yang kau lihat tadi, bantuan Jimmy tidak menghasilkan apa- apa dam hanya
menjadi satu kata, POHON.
Aku tau, semua
orang memandangku seperti orang yang tidak punya inisiatif, wa-laupun aku
menyenangkan. Ketika ada tugas prakarya, hampir tidak ada orang yang tidak mau
satu kelompok denganku. Ya, karena aku selalu meniru hasil orang lain.
Orang hanya mau
berteman denganku karena, satu alasan. Aku pintar. Pintar da-lam bidang apa
saja, kecuali memasak, menulis, dan membuat prakarya.
Cukup sekian
tentang diriku. Aku tidak ingin mengungkit masalahku lebih dalam. Oke, ikuti
saja kisahku.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Gimanaaaa?? Semoga terkesan yaaaa...
Byeee...
Dijah/Rara

0 komentar