Seribu Kata Beribu Makna (bag Prolog)

by - Desember 24, 2014

            Prolog

Aku tak tau, kata apa yang akan ku goreskan diselembar kertas putih bersih. Hanya kata pohon yang bisa kutuliskan di lembaran kertas dihadapanku. Yah mungkin, pohon bisa menjadi akar untuk kata-kata selanjutnya. Tapi, aku tak tau kata yang tepat untuk melanjutkannya.
"Nila!!!Bisakah kau lebih cepat menorehkan idemu di lembaran kertas itu. Aku sudah bosan untuk menunggumu!"kata Jimmy sedikit membentak. Tangannya berkacak pinggang.
"Maaf, tapi aku tak tau kata apa yang bisa menjadi lanjutannya,"jawabku lugu. Jimmy hanya menghela nafas.
"Memangnya, apa kata awalmu? Masa begitu saja lama?,"tanyanya.
"Pohon, dan aku tak tau apa kata selanjutnya. Yah, mungkin kau lebih pantas untuk melanjutkannya. Aku memang tak pantas untuk menjadi seorang penulis yang pandai merangkai kata-kata seperti kamu, JIMMY!"bentakku. Jimmy hanya terdiam.
"..."
"Oke, Jimmy, aku tak tau apa yang akan kukatakan. Tapi kau...."ucapanku terputus oleh perkataan Jimmy.
“Kau apa?,”bentak Jimmy.
“Kau terlalu keras untuk mengajariku untuk menjadi penulis. Dan, maaf. Aku tak punya waktu untukmu!,”ujarku keras.
“Permisi,”Aku meninggalkan Jimmy yang terdiam. Aku tidak butuh bantuannya. Aku hanya ingin ketenangan.
“Maaf,”
                                                ##
            Aku akan menceritakan kepadamu, tentang diriku. Seorang gadis yang masih ber-umur 12 tahun dan tidak memiliki bakat. Yah mungkin, kau saat ini sedang membayang-kan sesosok manusia yang selalu berkucir dua dengan satu kalung berwarna ungu berpa-duan pink di lehernya dan sebuah jam tangan hitam di pergelangan tangannya.
Aku seperti manusia yang tidak punya ide dan selalu mengikuti perbuatan orang. Aku melihat ibuku memasak dan aku mencoba memasak,aku yakin kau tau apa yang akan terjadi. Dan pikiranmu itu benar.
Aku melihat Jimmy yang suka menulis, Aku minta bantuannya untuk mengajari-ku menulis. Dan seperti yang kau lihat tadi, bantuan Jimmy tidak menghasilkan apa- apa dam hanya menjadi satu kata, POHON.
Aku tau, semua orang memandangku seperti orang yang tidak punya inisiatif, wa-laupun aku menyenangkan. Ketika ada tugas prakarya, hampir tidak ada orang yang tidak mau satu kelompok denganku. Ya, karena aku selalu meniru hasil orang lain.
Orang hanya mau berteman denganku karena, satu alasan. Aku pintar. Pintar da-lam bidang apa saja, kecuali memasak, menulis, dan membuat prakarya.

Cukup sekian tentang diriku. Aku tidak ingin mengungkit masalahku lebih dalam. Oke, ikuti saja kisahku.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Gimanaaaa?? Semoga terkesan yaaaa...

Byeee...

Dijah/Rara

You May Also Like

0 komentar