Satu Kata Beribu Makna (Bag-One)
One
“Oh maaf,”kataku.
Perempuan yang kutabrak itu hanya memonyongkan bibirnya.
“Kau tau? Apa
alasanmu menabrakku?,”jawabnya ketus. Aku hanya menghela nafas panjang.
“Oh, Elaine. Maaf. Aku tak ingin memperpanjangkan masalah ini. Aku punya
urusan yang lebih penting daripada masalah ini. Dan, oke, aku hanya ingin minta
maaf. Dan, oh. Aku telat. Permisi,”ujarku.
“Urusan kita belum selesai, NILA!,”teriak Elaine. Aku hanya menghela
nafas dan meninggalkannya.
“Oh, tentu. Siapa dibalik pintu?,”Suara lembut penuh wibawa menyambutku.
Aku hanya tersenyum tipis.
“Apa gerangan yang menyebabkan anda memanggilku, Mister?,”tanyaku. Mister
Rounald hanya terdiam sambil memilin milin ujung buku tebalnya.
“Kau tidak sopan, Nila. Dan aku mohon kau harus duduk terlebih
dahulu,”ujar Mister Rounad tampak tak suka dengan sikapku.
“Oh, Maaf. Aku hanya ingin jawabanmu, mister,”jawabku.
“Lihatlah ini, Nila,”Mister Rounald memberikan lembaran kertas berwarna merah
muda.
“Apa maksudnya? Tak ada yang aneh dengan lembaran kertas ini,
Mister,”kataku sedikit malas.
“Kau harus belajar tentang keadaan, Nila. Aku belum memintamu untuk
berkomen-tar soal kertas ini. Dan aku hanya ingin memintamu membacanya,”sahut
Mister Rounald.
“Oke, Maafkan aku,”
“Kau sudah membacanya Nila? Dan kau
tau maksudnya?,”tanya Mister Rounald. Aku hanya mengangguk pelan.
“Nilai karanganmu, kau harus memperbaikinya,”kata Mister Rounald.
“Yah, mungkin. Aku belum terlalu bisa, Mister. Lagipula, memang aku belum
ter-lalu berbakat,”jawabku pelan. Kecewa, tentunya.
“Dan itu saja yang bisa kukatakan kepadamu, silahkan kembali
kekelasmu,”pinta Mister Rounald. Aku hanya menghela nafas dan berjalan gontai
menuju kelas.
******
Udah ya...Soalnya Bag Two-nya aja belum selesai...Jadi ini dulu... Masih ada kokk...Krisarnya ya... Untuk bagian sebelumnya disini ..
Byeee...
Dijah/Rara

0 komentar