One
“Oh maaf,”kataku.
Perempuan yang kutabrak itu hanya memonyongkan bibirnya.
“Kau tau? Apa
alasanmu menabrakku?,”jawabnya ketus. Aku hanya menghela nafas panjang.
“Oh, Elaine. Maaf. Aku tak ingin memperpanjangkan masalah ini. Aku punya
urusan yang lebih penting daripada masalah ini. Dan, oke, aku hanya ingin minta
maaf. Dan, oh. Aku telat. Permisi,”ujarku.
“Urusan kita belum selesai, NILA!,”teriak Elaine. Aku hanya menghela
nafas dan meninggalkannya.
“Permisi,”sapaku sambil membuka pintu merah keemasan yang ada
dihadapanku.
